JIKA AKU PULANG
Gumpalan mega di
sudut mataku baru saja ku hapus.
“Jess,
kemarilahh!!” Suara Ibu membangkitkan lamunanku, panggilan itu membuatku harus
segera bergegas menghampirinya yang tengah duduk di ruang tamu.
“Ada apa Bu?” Tanyaku.
“Ayo, segera rapikan bajumu karna nanti sore Ibu akan mengajakmu pulang ke
rumah.” Jawab Ibu. “Baiklah” sahutku lirih.
“Hai, mengapa
matamu terlihat merah” timpalnya, sambil
memegang mata kiriku. “Ah, tidak apa-apa Bu, tadi aku hanya kelilipan saja, aku
akan segera bereskan bajuku.” Aku langsung masuk kamar dan merapikan baju. Memang
melelahahkan, tapi mau bagaimana lagi, perjalananku semalam dari Semarang
terlalu larut. Hingga membuat Ibu dan Adikku harus menjemputku di halte kota,
dan kami memutuskan pulang ke rumah kakak yang jaraknya tidak jauh dari halte.
Lagi pula rumahnya jarang ditempati karena ia sibuk bekerja di luar kota.
Tak perlu waktu lama
untuk membereskan bajuku, cukup 5 menit saja. “Ibu, aku sudah selesai
membereskan baju. Oh ya kemungkinan besok sore aku sudah kembali ke Semarang
karena masih banyak kegiatan diminggu ini.”
“Mengapa cepat
sekali nak? Apa kau tidak menunggu beberapa hari lagi, Ibu masih rindu denganmu,
sayang.” Jawabnya.
“Tapi Bu, Aku
memiliki kesibukan organisasi yang tak bisa ku tinggalkan, sebentar lagi ada
acara besar jadi panitia harus matang mempersiapkannya. Tenanglah Bu, bulan
depan aku pasti pulang.” Jelasku dengan tersenyum dan merangkul pundak Ibuku,
menenangkan. Menahan agar air di mataku tak keluar lagi.
“Baiklah Jessy, Ibu akan tunggu dan semoga
acaramu lancar, ya sayang.” Jawabnya sambil mengelus-elus kepalaku.
***
Waktu telah
menunjukan pukul 15.11 WIB, aku segera memakai sepatu dan menyetarter motor beat
hitam kesayanganku yang terparkir di depan rumah. “Brummm....Brummmm.....”
mendengar suara motor ku nyalakan, Ibu bergegas mematikan listrik dan mengunci
pintu. “Ready, Mom? Tanyaku.
Ya, ree..ready
sayang,,,.” Jawabnya terbata-bata dan membuat kami tertawa.
Kurang dari satu
jam kami tela sampai di depan rumah, segera kuangkat ransel dan masuk ke dalam
rumah. Di ruang tamu terlihat Ayah yang sudah pulang kerja, dan duduk menonton
berita. “Assalamualikumm,,,” salamku.
“Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatu” jawab Ayah dengan salam lengkap. “Jessy, kamu sudah
pulang, sayang? Bagaimana kabarmu Jes, kenapa 2 bulan kamu tak pulang, kakek
menanyakanmu, Ndhuk (panggilan Jawa).” Tuturnya menambahi.
“Iya, Ayah maafkan
Jessy karena di semester ini jarang pulang. Jessy terlalu disibukan dengan
berbagai macam kegiatan organisasi dan tugas hingga tidak memiliki kesempatan
untuk pulang. Ohh, iya, besok siang saja sebelum pulang aku akan ke rumah kakek
sebentar .” Paparku.
“Ya Allah, Jes
kamu baru saja pulang besok sudah kembali lagi? Apa kamu tidak kelelahan di
perjalanan, Ayah sangat rindu denganmu, sini!” Pintanya dan memelukku.
Aku tersenyum. “Maafkan
aku Ayah, kali ini ada acara besar di kampus jadi Jessy harus pulang. Jessy
juga sangat merindukan Ayahku tersayang.” Godaku.
Entah apa yang
terjadi, saat ini aku sibuk dengan duniaku sendiri. Entah dengan organisasi di
Jurusanku maupun dengan kegiatan lainnya. Ohhh Tuhan, betapa aku menjadi Miss
Bussy Universe kali ini, Jhehehe,,,,. Dan parahnya, kali ini pekerjaanku di
rumah hanya tidur, nonton TV, sholat dan tidur lagi. Ya Tuhan manusia macam
apakah aku ini? Dasar pemalas akut. ***
Keesokan harinya, aku
bangun dan pergi lari-lari kecil di sekitar rumahku. “Huftt betapa segarnya
udara minggu pagi ini, ternyata sudah lama aku tak menikmati indahnya pagi di
desaku ini. Terakhir kapan aku berolahraga dan bermain air sungai depan rumah
saja, aku sudah lupa, menyebalkan!” Gumamku dalam hati.
Dari kejauhan ku
lihat di ujung jalan ada seorang perempuan berjilbab berjalan dan melihat kesana
kemari, sepertinya tengah mencari seseorang. Setelah ku perhatikan, perempuan
itu ternyata adalah Ibu. Lalu ku hampiri. “Ada apa Bu? Sedang apa di sini?”
Tanyaku sambil menggandeng tangannya.
“Kamu ini lho,
dicari-cari ko ternyata di sini, ayo pulang Ibu sudah masakan makanan
kesukaanmu, sambel kerig tempe.” Tuturnya. “Sungguh?? Yeeeeah!!! Yeaaahhh!!!!
Jawabku kegirangan karena sudah rindu sekali dengan masakannya.
Kali ini tidah
hanya sambal kering tempe, tapi juga susu putih kesukaanku yang terhidang.
Mungkin memang aku sudah asing dengan ini semua, karena betapa lamanya ku tak
pulang ke rumah. Saat di kospun tidak ada yang memperhatikanku sedetail ini.
Apalagi menyiapkan makan bersama, seperti ini. “Hemmm....”
“Ibu, Aku sudah
selesai makan, dan kebetulan tadi pagi temanku mengirimkan pesan, bahwa nanti
pukul 4 sore aku harus sudah sampai di
sana untuk rapat koordinasi. Jadi Aku akan ke rumah kakek setelah dzuhur, Ya.
Sudah lama Aku tak pernah bercerita dan bermanja padanya, Jhehehe....” Pintaku.
“Lho, mengapa
secepat itu, semalam kamu cerita klo pulang sore, kenapa sekarang sore harus
sampai Semarang? Berangkat nanti sorelah atau besok saja. Rindu Ibu dan Ayah
belum terobati, nak.” Rayunya. “Ibu, tenanglah,
awal bulan depan aku pasti pulang, lagi pula masih ada adik di rumah, jadi tenanglah.”
Jawabku.
***
Langsungku ambil
ponsel, dan mencari nomor Kakekku. “Aaa, ini dia nomornya”, tanpa pikir panjang
langsung ku tekan tombol calling. Terdengar suara i-Ring dari ponsel kakek yang
khas dan belum pernah tergantika, “Hancur-hancur hatiku sakit hati karna mu
sungguh tak bissa Aku.....” “Hallo,,Assalamualikum.” Suara yang tak asing dan
selalu ku rindukan, namun sudah lama tak ku dengar, akhirnya muncul lagi. “Hallo,
Kakek.” Jawabku dengan centil dan manja. “Kakek, nanti setelah dzuhur pas, Aku
sudah di rumahmu ya, tidak pergi kemana-manakan? Jessy rindu sekali.” Timpalku
lagi.
“Tidak pergi
kemana-mana, kakek di rumah dan selalu menunggumu pulang, kakek kira kamu sudah
lupa dengan ku, karena sekarang sudah banyak teman dan kegiatan. Kamu sudah 2
bulan lebih tak pulang, membuat kakek rindu dengan manja dan cerewetnya cucuku
yang paling cantik, Heheee, hehee....” Tuturnya dengan tawa lepas, canda yang
telah lama tak ku dengar. “Baiklah, nanti aku akan segera kesana, tunggu aku,
Okee Kek? Kalau begitu aku tutup dulu telponnya, Assalamualaikum.”
Tuuuttt...tuuuttt...tuuuutttt....
Suara sambungan telepon terputus.
Tak lama kemudian
ponselku berbunyi, dan ada 1 pesan dari temanku yang membuatku sediki kesal.
Karena aku diberikan tugas merekap data dan segera mengirimkannya. Ini akan membuatku
terlambat ke rumah kakek, tapi harus bagaimana lagi. ***
Ternyata benar
dugaanku, jam menunjukan 12.30 baru
selesai, dan ini artinya sudah dzuhur. Tentunya kakek sudah menunggu. Tanpa
pikir panjang, langsung ku raih kunci motor dan bergegas ke rumah kakek yang
jarak tempuhnya kira-kira 30 menitan dari rumahku. Tapi sudah bisa ku pastikan
nanti aku hanya berpamitan saja, dan tak bisa bercerita panjang kali lebar kali
tinggi seperti biasanya saat aku pulang.
Ternyata benar,
Kakek sudah menungguiku di depan rumah, dengan peci putih di kepala dan sarung
yang ia pegangi sampingnya, dan melihat ke arah darimana datangku. “Jessy, putene
wedok sing ayu dhewe (cucu perempuannya yang cantik sendiri),
eleh,,,elehhh,,,” merangkulku dan mencubit hidungku lalu membawaku pergi duduk
di kursi hijau ukiran dari Jepara, tempat favorit kami mengobrol.
“Kek, maaf sebelumnya
Jessy, ini hanya pamit tidak bisa berlama-lama karena sore nanti aku harus
segera tiba di kampus ada urusan penting. Jessy janji bulan depan akan pulang
kerena banyak tanggal merah, tenang saja,,nanti akan Jessy ceritakan apapun
yang kualami disana. Tapi tidak sekarang, ini juga Jessy agak pusing kepalanya,
Kek.” Jelasku. “Oh, jika begitu ambillah ini, permen masuk angin dan manisan
untuk kamu di bis. Ya sudah pulanglah, Aku akan merindukanmu, Ndhuk, hati-hati
jaga dirimu, kesehatanmu baik-baik dan jangan ceroboh.” Jawabnya.
Seketika itu aku
berdiri, dan berpamitan. Tiba-tiba, Kakek meraih tanganku dan membuatku menoleh.
Kakek mencium pipi kanan dan kiriku,”Hati-hati ya, selalu ingat Allah, dan
semoga kau tak lupa denganku.” Tambahnya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Aku mengangguk menahan air mata, karena tidak biasanya beliau menciumku seperti
tadi dan pesannya membuatku merasa bersalah. Sebegitu lupakah aku akan rumah. “Ah,
mungkin karena sangking rindunya”, gumamku dalam hati. Ku starter motor dan
pergi menghilang dari pandangannya sore itu.
***
Tiga minggu
kemudian, tepatnya Selasa pagi aku mendapat kabar dari Bulek, bahwa Kakek masuk
Rumah Sakit. Betapa kaget dan sedihnya diriku, hingga tak mampu berkata apapun.
Aku diminta ulang ke rumah, namun aku menolak karena paginya aku ada ujian dan
setiap hari Rabu ada saja acara yang membuatku tidak masuk kelas. “Maaf Bulek,
tapi besok Jessy masih ada kuliah dan ujian, jadi besok saja ya aku pulang,
semoga Kakek lekas sembuh.” Jawabku. “Iya sudahlah, tapi setelah itu pulanglah,
Jes Ibu dan Kakek menunggumu.” Sahut Beliau. “Baiklah, sampaikan salam, sayangku
kepada Kakek, tenang aku akan pulang.”
Malam harinya, aku
mengajar les privat, namun perasaanku sudah tidak karuan. Entah apa yang
terjadi, dan bagaimana kabar kesehatan Kakek, aku belum sempat menanyakan
karena padatnya perkuliahan hari ini dan ku pikir tak terlalu parah.
“Tut,,,tulit,,,tutt...tulit
HP-ku berbunyi ada telepon rupanya. “Halo, iya Bulek..” aku mendengar suara
orang menangis. “Bulek ada apa? Tolong jawab Aku.” Tanyaku panik. “Kakek
meninggal, dan sehari sempat koma, segeralah pulang!” Jawabnya.
“Baik,” jawabku
tanpa bisa menahan air di bendungan mataku. Aku segera pamit, kustater motor
menuju kos dengan berlinangan air mata. Aku bingung bagaimana caraku pulang,
hari sudah larut malam dan hingga tak bisa memejamkan mataku.
Namun fatal, itu
membuatku bagun kesiangan. Tanpa berpikir lama lagi, ku bangunkan teman
sekamarku dan dengan kecepatan tinggi ia lajuka motor menuju Pati, kota asal
kami. Namun sayang, nasi telah menjadi
bubur bahkan hangus. Ketika kedua bola mataku menyaksikan jenazah kakek telah di bawah batu nisan.
Terkubur oleh tanah basah, yang baru saja digali. Tanpa bisa melihat saat
terakhirnya. Robohlah badanku seketika itu bagai pagar tanpa tiang dan terbang
tertiup angin. Betapa bodohnya aku, kenapa tak memutuskan pulang
kemarin-kemarin saja. Betapa egonya aku, hanya memikirkan kegiatanku saja,
tanpa pernah memikirkan pentingnya pulang dan bersu apalagi orang yang
merindukanku.
Penyesalan
memenuhi ruang dadaku, tiap kali ku pandang tempat duduk Kakek saat menanti
kehadiranku. Kursi hijau favorit kami dan semua curahan serta candaan di ruang
tamu. Betapa terguncangnya batinku, belum bisa menerima kenyataan pait. Pohon
jambu tempatku bermain bersamanya, sekan ikut menangis melihat derasnya air mataku.
Menyesal,,,dan menyesal, kenapa kepulanganku kemarin begitu singkat hanya
sekedar berjabat tangan? Mengapa Engkau ambil dirinya disaat aku masih berjuang
untuk mengukir senyum di wajahnya Tuhan? Kini tinggallah kecambuk dalam hati, dan
hanya satu hal yang ingin putar kembali, yaitu waktu, JIKA AKU PULANG kala itu pasti
sesal takkan seberat ini.
Maka dariku,
Pulanglah!
***
(R.T.J.)
Notte:
Satu pelajaran
untukku, pulanglah jika kau ingin pulang. Jangan kau berpura-pura sibuk dengan
segala kegiatan dan pekerjaanmu. Karena itu semua Takkan pernah akan ada
habisnya.
Pulanglah, selagi
ada tempat untukmu berpulang. Sepait apapun kau pulang ke rumah, masih ada
senyum-senyum kecil yang sebenarnya kau rindukan. Dan jika kau sadari, itulah
penawar paitmu.
Pulanglah selagi
ada kesempatan dan ada orang-orang yang menyambutmu.
(R.T.J.)
BIODATA
Raundoh Tul Jannah
(085875976718)
Perkenalkan
saya Raundoh Tul Jannah, Mahasiswa Semester 4 Prodi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Jawa, Universitas Negeri Semarang. Lahir di Baturaja, 10 Mei 1996,
Sekarang Beralamat di Pati. Seorang penyiar magang di RRI Semarang, Ketua
Juralistik Jurusan, Anggota Hima dan UKM Kethoprak. Hobby menulis, membaca,
berolahraga, dan berkesenian. Salam Senyum Semangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar